Jumat, 22 Maret 2013

Tara goddess statue Versi english


ARCA FOUND IN SUSPECTED GODDESS TARA SITUBONDO

SITUBONDO, FPCB Misyono (44 years) on Sunday, March 10, 2013, found a statue that supposedly resemble a statue goddess Tara. Arca was found wedged conditions in the forests of teak root Baluran, District Banyuputih.

        
Discovery of archaeological objects shaped statue was started when Misyono who worked as a farmer looking for grass. On the night before finding the statue, he admitted that he dreamed of women dressed in white. In his dream, the woman waved his scarf to Misyono. Even asked to come live bersamanya.Tetapi Misyono Misyono menolaknya.Namun woman forced Misyono, until finally Misyono powerless to resist her desire.

      
The next day, the father of two children was also working normally graze in the forest Baluran, precisely in Block BES. When searching for grass, Misyono find it so strange that sandwiched teak root. Misyono curious immediately took it. Apparently after being approached it in the form of a statue.

     
Misyono then remembered that previously had given the dream shawl. He said to himself that if it is sustenance, it will be taken and can be taken home. About two hours, then the strange object can be removed. Without much deliberation, Misyono immediately brought the statue to his home .. It is said, during the return voyage, the statue of the goddess tara was offered by a driver from Bali at Rp 500,000. However, Misyono not sell it and choose to tell his wife.

     
The statue has a height of 40 cm, width 20 cm by 15 cm thick foundation. While it weighs about 15 kilogram.Sementara terngara name Tara statue, revealed by the Heritage Rescue Forum (FPCB). FPCB himself after persuasive measures, could eventually mediate the process of transferring the alleged objects of antiquities was at the Situbondo regency on Thursday , March 15, 2013. (*)

TEMUAN ARCA DEWI TARA DI SITUBONDO, SEBUAH TANTANGAN


Oleh: Irwan Rakhday.
Peninggalan arkeologi khususnya dari masa klasik Hindu-Budha di Situbondo tampaknya merupakan sesuatu yang langka.Terbukti, tak banyak temuan-temuan arkeologi di kawasan ini.Sekali pun hal itu ada, namun belum dapat secara signifikan menjelaskan perihal eksistensi sebuah kerajaan yang berlatar Hindu-Budha.Memang dari wacana terkini yang berkembang, kawasan Situbondo di masa sejarah khususnya di masa klasik Hindu-Budha ‘hanya’ di sebut di Kitab pararaton dan kitab Negarakerthagama dalam porsi yang kecil.
Dalam kitab Negarakertagama dari masa Kerajaan Majapahit,misalnya, disebut nama wilayah Patukangan,Ketah (Tokengan, Panarukan) dan Ketha (Ketah,di Besuki).Bukan berarti eksistensi wilayah itu tidak penting.Bahkan sangat penting mengingat peristiwa historis di dua lokasi itu cukup menggemparkan.Patukangan, merupakan wilayah kadipaten pelabuhan penting yang dipimpin oleh Adipati Suradikara, mencatat peristiwa audensi Raja Hayam Wuruk dengan sejumlah raja-raja kecil pada tahun 1359 Masehi. Kemudian Ketah yang merupakan daerah pertempuran pemberontakan di masa Majapahit, kita baca sebagai sebuah wilayah yang amat penting untuk direbut.
Sementara itu puluhan kilometer ke arah timur dua lokasi penting itu, belum disebut secara gamblang dalam referensi-referensi sejarah. Hal itu menasbihkan daerah wilayah timur Situbondo masih diliputi misteri.Ada apa dengan Situbondo di wilayah timurnya, tepatnya di wilayah yang kini sebuah kecamatan Banyuputih? Catatan sejarah atau setidaknya pewacanaan sejarah masa klasik Hindu-Budha di kawasan ini sangatlah minim.Bahkan seperti tertelan dalam catatan sejarah karena selalu didentikkan sebagai bagian ‘pinggiran’ dari wilayah kerajaan Blambangan.
Hal itu bisa jadi hanya sebuah asumsi dan bukan rumusan pasti. Bahwa area yang dimaksud hanyalah area sebuah dusun biasa.Tetapi dari beberapa temuan terkini, membuat kita sedikit mengernyitkan dahi untuk kembali membaca sekaligus meladeni tantangan pikiran kita menguak masa lalu secara spesifik. Temuan yang mengindikasikan sebuah situs purbakala yang merupakan pusat aktifitas baik itu permukiman maupun tempat pemujaan.
Lihatlah, Prasasti Widoro Pasar yang terletak di kecamatan Banyuputih yang berangka tahun 1453 Masehi dan sekitar 500 meter dari lokasi prasasti itu juga ada sebuah prasasti yang bentuknya serupa, walau tulisannya sudah hilang sama sekali. Kemudian Situs Batu Lesung yang juga tak jauh dari lokasi tersebut menunjukkan adanya sebuah wilayah permukiman penduduk.Belum lagi sebuah gundukan tanah atau bukit kecil yang juga ditemukan struktur batu bata di dalamnya di antara kedua lokasi tersebut di atas.
Nah, terkait dengan hal itu, ada sebuah temuan penting pada 9 Maret 2013 di sebuah lokasi hutan di
Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih.Temuan benda purbakala itu adalah sesosok arca wanita .Arca tersebut identik dengan arca Dewi Tara.Bahannya terbuat dari batu. Patung setinggi 40 cm,lebar 20 cm dan tebal 15 cm itu memiliki ornamen khas yang cukup bagus kualitasnya.Motif-motifnya sangat detail. Bahkan ekspresi wajahnya cukup meberi kesan agung dan berwibawa sebagaimana sosok orang besar.
Arca Dewi Tara tersebut bisa jadi merupakan arca temuan di Kabupaten Situbondo yang kualitasnya bagus. Jauh lebih bagus dibandingkan dengan arca temuan di wilayah barat Kabupaten Situbondo seperti di Kecamatan Jatibanteng. Arca-arca temuan di wilayah tersebut di atas rata-rata kasar dan terkesan belum selesai digarap.Atau bisa jadi sebagian lapuk dimakan usia sehingga ornamennya tidak jelas.
Temuan arca berkualitas bagus itu amatlah penting mengingat berbagai aspek yang dapat dianalisa antara lain fungsi arca tersebut. Selain itu, penegasan dalam wacana arkeologi terkait nama arca dapat dijadikan indikasi dari masa apa arca tersebut dibuat.Tentu hal itu memerlukan penelitian arkeologi yang dapat dibuktikan secara ilmiah.Bisa jadi lokasi temuan arca di kawasan hutan Baluran itu merupakan situs sejarah.Hal itu diperkuat dengan pernyataan beberapa warga yang pernah melihat tumpukan batu bata, sumur tua dan beberapa artefak.
Barangkali bagi sebagian orang, temuan ini adalah sebuah narasi kecil. Sebuah narasi yang biasa seperti angin lalu. Padahal bagi seorang sejarawan maupun pencinta sejarah, temuan tersebut adalah sebuah narasi besar.Sebuah pintu pembuka untuk menguak misteri peradaban masa klasik Hindu –Budha di bumi Situbondo yang masih samar-samar.Semoga

Senin, 18 Maret 2013

BERITA DUKA:
Saudara-saudara para pecinta dan pelestari peninggalan Sejarah Indonesia, ada kabart erbaru yang sangat menyedihkan. Kabupaten Bondowoso adalah sebuah Kabupaten yang telah mengesahkan PERDA Cagar Budaya tahun 2011 dan dikenal sebagai Kabupaten dengan peninggalan Pra Sejarah, namun belakangan ini ada kabar yang membuat kita sedih. Sebuah situs pra sejarah dari jaman Megalitikum yang terletak pada sebuah bukit yang masuk wilayah Nangkaan sudah dibeli investor akan dialih-fungsikan untuk menjadi arena wisata termasuk "Water Boom". Belakangan Para pekerja sudah mulai membongkar area ini dan mulai memindahkan tulang rangka yang ada ke pekuburan terdekat. Mari teman-teman kita mesti bersuara keras. Monggo teman2 yang ada di Bondowoso dan Universitas Negeri Jember untuk mengadvokasi kasus ini. (Mohon nomer kontaknya). Kita-kita dari pelestarian Cagar Budaya Lumajang akan senantiasa membantu pengawalan dan bekerja sama....salam Lamajang Wirabhumi, Pejuangan Tiada Henti!!

Tapuk atau topeng: bukti arkeologis pada masa pengaruh Hindu-Buddha, topeng disebutkan dalam prasasti dan diwujudkan dalam relief, kala pada gerbang candi, dan topeng dari emas, kayu, kulit binatang, tanah liat, dan batu. Kemungkinan besar, artefak ini digunakan untuk sarana ritual.

Minggu, 17 Maret 2013

ANALISA S.MARGANA TENTANG ARCA TEMUAN DI SITUBONDO

S Margana  dari Leiden, Belanda menganalisa Arca temuan di Situbondo. Ia mengatakan bahwa dalam Buddhisme Tibet sosok yang terwujud dalam arca itu dianggap sebagai Bodhisattva belas kasih dan tindakan. Dia adalah aspek feminin dari Avalokitesvara, dan dalam beberapa cerita, dia berasal dari air matanya Avalokitesvara: Suatu ketika Avalokiteshvara tiba di puncak Marpori, 'Red Hill', bukit merah di Lhasa. Menatap keluar, ia melihat bahwa danau di Otang, mirip neraka. Di sana berjuta orang yang menjalani penderitaan tubuhnya mendidih, haus, terbakar, kelaparan, namun mereka tidak pernah tewas, teriakan mengerikan dari kesedihan sepanjang waktu. Ketika Avalokiteshvara melihat ini, air mata muncul di matanya. Air mata dari mata kanannya jatuh ke dataran dan menjadi Pendeta Bhrikuti. Bhrikuti kemudian diserap ke dalam mata kanan Avalokiteshvara, dan terlahir kembali di kemudian hari sebagai putri Nepal Tritsun. Sebuah air mata dari mata kirinya jatuh menjadi Pendeta Tara. Tara juga diserap ke dalam mata kiri Avalokiteshvara, dan terlahir kembali di kemudian hari sebagai putri Cina Kongjo (Putri Wencheng).

TEMUAN SITUS PURBAKALA dan ARTEFAK KUNO DI KEC.BANYUPUTIH , SITUBONDO 17 MARET 2013
















Kamis, 14 Maret 2013

Penemuan Patung Dewi Tara




ARCA DIDUGA DEWI TARA DITEMUKAN DI SITUBONDO


SITUBONDO,FPCB  Misyono (44 tahun) pada Minggu, 10 Maret 2013, menemukan sebuah  sebuah patung  yang diduga mirip  Arca Dewi Tara . Arca tersebut ditemukan dengan kondisi terjepit akar kayu jati di hutan Baluran, Kecamatan Banyuputih.

        Penemuan benda purbakala berbentuk patung tersebut berawal saat Misyono yang bekerja sebagai petani itu sedang mencari rumput. Pada  malam sebelum menemukan patung itu, ia mengaku bermimpi didatangi perempuan yang berpakaian putih. Dalam mimpinya itu,  perempuan tersebut mengibas-ngibaskan  selendang kepada Misyono. Bahkan meminta Misyono untuk ikut tinggal bersamanya.Tetapi Misyono menolaknya.Namun perempuan tersebut memaksa Misyono, hingga akhirnya Misyono tak kuasa untuk menolak keinginan perempuan itu.

      Keesokan harinya, bapak dua anak itu pun bekerja seperti biasa mencari rumput di hutan Baluran, tepatnya di Blok BES. Saat mencari rumput, Misyono menemukan benda aneh yang terhimpit di akar kayu jati. Misyono yang penasaran segera mengambil benda itu. Ternyata setelah didekati benda  itu berupa patung.

     Misyono kemudian ingat bahwa sebelumnya sempat bermimpi diberi selendang. Ia berkata pada dirinya bahwa jika itu merupakan rezekinya, benda itu akan bisa diambil dan bisa dibawa pulang. Sekitar dua jam, barulah benda aneh tersebut bisa diangkat. Tanpa banyak pertimbangan, Misyono langsung membawa patung tersebut ke rumahnya..Dikatakan,selama perjalanan pulang, patung Dewi tara tersebut sempat ditawar oleh seorang sopir asal Bali seharga Rp 500.000. Namun, Misyono tidak menjualnya dan memilih memberi tahu pada  istrinya.

     Patung tersebut memiliki tinggi 40 cm, lebar 20 cm dengan ketebalan pondasi 15 cm. Sedangkan beratnya sekitar 15 kilogram.Sementara itu terngara nama patung Dewi Tara , diungkapkan oleh Forum Penyelamat Cagar Budaya (FPCB).FPCB sendiri setelah melakukan langkah persuasif, akhirnya dapat melakukan mediasi dalam proses penyerahan benda yang diduga benda purbakala itu pada pihak Pemkab Situbondo pada Kamis,15 Maret 2013.(*)