Sabtu, 20 April 2013

KABAR BAGUS KAWAN:



SITUBONDO, - Pemerintah Kabupaten Situbondo Jawa Timur berencana membangun museum mini untuk menyimpan sejumlah benda purbakala yang berhasil diselamatkan oleh Forum Pelestarian Cagar Budaya (FPCB) dari Hutan Baluran. Rencana untuk membangun museum mini itu disampaikan oleh Bupati Dadang Wigiarto usai menerima 17 benda purbakala oleh FPCB, Rabu (20/3/2013).

"Jika hasil peneli...tian yang dilakukan tim dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) di Jawa Timur sejumlah benda purbakala yang ditemukan FPCB itu memang benar benda purbakala, sesuai dengan usulan kepala Disparbudpora, kami berupaya untuk membangun museum mini, untuk menyimpan dan melestarikan benda purbakala tersebut. Dengan harapan, museum mini dijadikan tempat wisata sejarah untuk para pelajar di Kota Situbondo," ujar Dadang.

Menurut Dadang, rencana untuk membangun museum mini itu dengan latar belakang banyaknya temuan benda purbakala. Apalagi FPCB juga berjanji akan menelusuri sejarah dari sejumlah benda purbakala yang ditemukan. "Kami sangat mendukung upaya FPCB untuk menelusuri benang merah atau sejarah dari sejumlah benda purbakala yang berhasil diselamatkan tersebut. Yang pasti, rencana pembangunan museum mini itu masih menunggu hasil penelitian dari tim BPPP Jawa Timur," imbuhnya.

Juru bicara FPCB Situbondo, Irwan Rakhday mendukung rencana pembangunan museum mini, karena pihaknya berkeyakinan masih banyak benda purbakala yang tersimpan dan belum ditemukan. Sebanyak 17 benda purbakala yang diserahkan kepada Bupati berupa dua lesung batu, arca tembikar, empat unit keramik, tiga unit gerabah, keramik, tempat penyimpanan abu jenazah, kendi dan patung serta batu bata merah berukuran besar dengan panjang 36 centimeter, lebar 20 cm dan tebal 8 cm.

Ke-17 benda itu ditemukan Nihalil, warga Situbondo. Sebelumnya, FPCB juga menyerahkan Patung Ken Dedes yang ditemukan Misyono, pencari rumput.

Selasa, 16 April 2013

Analisis terakhir Penemuan Arca DI Situbondo

SITUBONDO - Patung yang ditemukan di Hutan Baluran Situbondo, Jawa Timur, pada 10 Maret 2013, dipastikan keasliannya sebagai benda purbakala. Patung tersebut dinyatakan sebagai Patung Dewi Laksmi dan peninggalan dari era Kerajaan Majapahit.
"Kami bersama Disbudpar Jatim menilai temuan arca itu bisa disimpulkan sebagai benda cagar budaya. Itu karena sudah memenuhi persyaratan sebagai ciri ciri patung Dewi Laksmi," tutur Kepala Balai Cagar Alam dan Penelitian Purbakala (BCPP) Jawa Timur Aris Soviyani, di Situbondo, Rabu (10/4/2013).
Tim gabungan dari BCPP Jawa Timur serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, datang ke Situbondo, menyusul temuan arca tersebut. Keaslian dan perkiraan era pembuatan patung merupakan hasil penelitian selama satu jam tim ini.
Aris menambahkan tim gabungan belum dapat memastikan usia patung Dewi Laksmi ini, karena belum meneliti dan mendatangi lokasi penemuan. Meski demikian, era pembuatan patung sudah dapat dipastikan di masa kerajaan kuno Majapahit Timur.
"Kalau bicara soal usia, kami tidak bisa memastikan karena tidak ada inspeksi. Namun jika ditilik di bagian belakang kepala patung itu memang peninggalan kerajaan Majapahit Timur," tutur Aris. Dia mengatakan pada masa lalu memang ada Kerajaan Majapahit Timur dan Kerajaan Majapahit Barat.
Bantuan teknis
Aris mengatakan tim gabungan sifatnya hanya memberikan bantuan teknis untuk meneliti keaslian dan asal-usul arca. Pemerintah Kabupaten Situbondo, ujar dia, belum memiliki Balai Museum sehingga tak bisa melakukan sendiri penelitian atas temuan yang diduga benda purbakala. "Jika di Situbondo ada Balai Museum, maka kewenangan itu ada di Pemkab Situbondo. Yang jelas kami hanya membantu  secara teknis saja," aku Aris.
Bersama Forum Pecinta Cagar Budaya (FPCB) Situbondo, ujar Aris, tim gabungan akan berupaya menentukan usia arca dengan melihat langsung lokasi penemuannya di Hutan Baluran. Langkah itu juga sekaligus dilakukan untuk menginventarisasi kemungkinan keberadaan arca lain.
"Ini karena bekas Kerajaan Majapahit Timur belum tersentuh sama sekali. Kami siap membantu Pemkab Situbondo untuk melakukan pencarian ke lokasi," kata Aris. Dia pun mengingatkan penemu arca ini berhak atas kompensasi yang besarannya akan ditentukan bersama oleh Disbudpar Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Situbondo.

Jumat, 12 April 2013

Paparan Data dan Temuan

Sejarah Masa Silam



Di masa silam, daerah Situbondo merupakan daerah penting di pantai utara bagian timur pulau Jawa. Sebab di kawasan itu terdapat pelabuhan-pelabuhan penting seperti Panarukan, Kalbut dan Jangkar. Malah kota Panarukan pada abad ke-14 merupakan salah satu pangkalan penting bagi kerajaan Majapahit. Di Panarukan sudah berdiri kerajaan Keta (nama itu abadi sebagai desa Ketah di kecamatan Suboh, Situbondo - pen). Untuk merebut Keta - sebagaimana dituturkan dalam Negarakretagama pupuh XLIX/3 – Majapahit melakukannya dengan kekuatan senjata.
Kawasan Situbondo di masa silam termasuk ke dalam wilayah Wirabhumi. Dilihat dari segi nama, dapat diasumsikan bahwa penduduk di kawasan Wirabhumi adalah orang-orang yang memiliki sifat ksatria yang gagah perkasa dan tidak gampang tunduk kepada siapa saja yang ingin menguasai mereka. Mereka adalah orang-orang yang memiliki harga diri dan kehormatan tinggi. Mereka adalah orang-orang yang ingin merdeka dari tekanan siapa pun yang datang dari luar.
Sejarah setidaknya telah mencatat bahwa di daerah Wirabhumi ini telah sering pecah peperangan. Perang terbesar yang pada gilirannya meruntuhkan Majapahit, yakni Perang Paregreg terjadi di kawasan ini. Sejak kekuatan Bhre Wirabhumi dihancurkan Wikramawardhana dalam Perang Paregreg, daerah Wirabhumi seperti "terlepas" dari kontrol Majapahit. Rakyat di daerah itu menyusun sejarahnya sendiri. Bahkan saat agama Islam sudah menyebar di pulau Jawa abad ke-16, kawasan Wirabhumi sepertinya tetap berada di dalam cengkeraman raja-reja lokal yang masih beragama Hindu.
Pada 1535 Masehi seorang musafir Portugis bernama Galvao mengunjungi Panarukan. Galvao mencatat bahwa masyarakat di kawasan itu masih beragama Hindu. Seminggu sebelum kedatangannya, demikian Galvao, ia mendengar cerita bahwa ada seorang janda yang baru saja membakar diri untuk ikut mati bersama suaminya. Pada 1546 Sultan Trenggana dari Demak menyerang Panarukan dan beliau gugur dalam serangan tersebut. Sekalipun harus ditebus dengan gugurnya Sultan Trenggana, namun Demak berhasil menguasai wilayah Panarukan. Agama Islam pun mulai berkembang di Panarukan. Tahun 1575 -- secara tiba-tiba -- Panarukan direbut oleh raja Blambangan, Santaguna, yang masih beragama Hindu.
Pada 1579 seorang romo Jezuit, Bernardino Ferrari mengunjungi Panarukan untuk melayani orang-orang Portugis yang tinggal di situ. Ia berlayar dengan kapal Portugis yang berpangkalan di Malaka. Di kota pelabuhan itu ia mendapat sambutan ramah. Raja Santaguna bahkan meminta, dengan perantaraan perutusan, supaya lebih banyak misionaris dikirim.
Kira-kira tahun 1585 romo-romo kelompok biarawan Capucijn dari Malaka yang beroperasi juga di Blambangan berhasil mentahbiskan seorang "imam berhala", saudara sepupu raja "kafir" (Santaguna) di situ menjadi orang Kristen. Beberapa waktu berselang, bangsawan yang telah dikristenkan itu dibunuh oleh rakyat (De Graef, l986).
Tahun 1596 raja Pasuruan melakukan serangan ke Panarukan yang saat itu dirajai oleh keturunan Raja Santaguna yang dipertahankan pasukan-pasukan dari Bali pimpinan Jelantik. Dalam suatu pertempuran yang sengit, pasukan Islam berhasil meraih kemenangan bahkan berhasil menewaskan Jelantik. Dan sejak tahun 1600 -- begitu menurut catatan sejarah -- Panarukan telah menjadi Islam.
Kisah-kisah sejarah di kawasan Wirabhumi -- jika dikaji secara cermat -- cukup banyak yang mengandung muatan "rekayasa" politik di dalamnya yang seringkali meletus dalam bentuk pertempuran besar yang mengakibatkan jatuhnya korban rakyat kecil. Kisah pemberontakan Patih Mangkubhumi Nambi di awal abad ke-14, misalnya, adalah hasil rekayasa dari tokoh Mahapatih yang berambisi menjadi Patih Mangkabhumi. Dengan suatu manuver politik yang rapi, Mahapatih berhasil menyudutkan Nambi sebagai pejabat yang akan mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Hasilnya, benteng Pajarakan yang menjadi basis kekuatan Nambi dihancurkan pasukan Majapahit. Nambi sekeluarga beserta pengikut-pengikutnya terbunuh. Dan Mahapatih, setelah peristiwa itu diangkat menjadi Patih Mangkubhumi Majapahit (Mulyana, l979).
Pada perempat akhir abad 16, menurut catatan sejarah daerah Situbondo tepatnya di sekitar Demung dan Ketah telah dijadikan ajang pertempuran akibat pertarungan antar kepentingan kelompok yang bersengketa dalam upaya merebut kekuasaan Mataram dari Amangkurat I. Dalam pertempuran itu, kekuatan Mataram yang berada di bawah perintah Amangkurat I berhadapan dengan pejuang Makassar yang secara rahasia berada di bawah perintah Adipati Anom, putera mahkota.
Menurut catatan Belanda dalam Daghregister 25 Januari 1674, Demung dekat Panarukan telah dijadikan benteng pertahanan oleh pasukan Makassar di bawah pimpinan Karaeng Bonto Marannu. Sejak Oktober 1674, orang-orang Makasar itu ditengarai telah menjadikan Demung sabagai tempat tinggalnya.
Pangeran Adipati Anom - putera mahkota Amangkurat I - yang mengincar kedudukan ayahandanya, rupanya telah menjalin hubungan rahasia dengan pimpinan warga Makassar di Demung yakni Karaeng Bonto Marannu. Dalam hubungan itu, terjalin pula sedikit hubungan antara orang-orang Makassar dengan Madura. Ini dikarenakan, Pangeran Adipati Anom juga menjalin hubungan rahasia dengan menantu Panembahan Rama yakni Trunojoyo dari Madura. Tetapi hubungan kedua kelompok itu tidak menjadi akrab dan tidak berlangsung lama pula. Itu disebabkan oleh kepentingan masing-masing terlalu banyak berbeda (De Graaf,l987).
Dalam catatan sejarah diketahui bahwa orang-orang Makassar di akhir 1674 dari pangkalannya di Demung telah melakukan penyerangan ke kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa Timur. Kota pelabuhan Gerongan yang merupakan pelabuhan beras, misalnya, dalam waktu singkat dikuasainya. Mereka bahkan membunuh awak perahu milik warga Batavia Struys. Anehnya, para pejabat Mataram di kawasan pantai utara tak menunjukkan reaksi melihat daerahnya dilanda kerusuhan.
Menurut De Graaf (l987) Pangeran Adipati Anom rupanya telah memberikan perintah agar para pejabat Jawa tidak mengambil tindakan terhadap orang-orang Makassar yang melakukan penyerangan dan perampasan itu. Kepatuhan para penguasa setempat -- yakni bupati-bupati di daerah Surabaya dan Gresik -- atas perintah Pangeran Adipati Anom itu ternyata berakibat fatal. Sebab Sunan Amangkurat I kemudian memerintahkan agar para pejabat itu dibunuh.
Sejarah memang mencatat bahwa dalam proses suksesi atas kekuasaan Amangkurat I itu, telah terjadi berbagai macam rekayasa politik yang mengorbankan nyawa rakyat kecil yang terombang-ambing oleh ketidak-pastian angin kekuasaan. Para pejabat daerah setingkat bupati dihadapkan pada pilihan untuk patuh pada dua jalur perintah yang bertolak-belakang yakni perintah dari putera mahkota dan perintah sunan.
Akibat dari manuver politik yang makin lama makin transparan itu, Pangeran Adipati Anom pada gilirannya dituduh mau merebut kekuasaan selagi ayahandanya masih berkuasa. Karena itu, ia dibenci oleh Sunan yang sudah tua itu, dan adiknya Pangeran Singasari ditetapkan sebagai pengganti ayahnya. Pangeran Puger dan Pangeran Sampang, memang telah menyatakan dukungan terhadap Pangeran Adipati Anom sebagai pengganti ayahnya, tetapi banyak pangeran lain yang bersumpah akan mendukung keputusan Sunan.
Kekisruhan situasi akibat proses suksesi dewasa itu berlangsung di mana-mana. Kekacauan yang pecah di pedalaman Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, dikendalikan oleh Trunojoyo yang berpangkalan di Kediri. Sedang kekacauan di pantai utara Jawa Timur dan sebagaian Jawa Tengah dikendalikan oleh orang-orang Makassar di bawah Karaeng Bonto Marannu, Karaeng Galesong, Karaeng Tallo, dan sebagainya.
Menurut Jonge (dalam De Graaf, 1987) Sunan Amangkurat I yang marah karena merasa dikhianati putera mahkota itu mengirimkan 100 perahu perang ke Demung dengan membawa pasukan ribuan orang. Pasukan dipimpin Raden Prawirataruna dan Rangga Sidayu. Kekuatan laut Mataram itu kemudian bergabung dengan armada Belanda pimpinan Jan Franszen. Dan antara 17 - 24 Mei 1676 terjadi pertempuran antara pasukan Jan Franszen dengan pasukan Makassar di Demung. Sedang pasukan Rangga Sidayu bertempur di Keta. Namun dalam serbuan itu, pihak Mataran mengalami kehancuran dan panglima-panglima perangnya tewas dengan cara mengenaskan.
Rekayasa yang dilakukan oleh Pangeran Adipati Anom untuk merebut kekuasaan ayahandanya itu pada akhirnya memang berhasil sukses. Sebab setelah terjadi kerusuhan-kerusuhan di berbagai daerah yang akhirnya marak ke ibukota Mataram hingga Amangkurat I yang rambutnya sudah penuh uban itu mengungsi dan kemudian mati di Wanayasa tepatnya di Tegalwangi sebagaimana ditulis dalam Babad Tanah Jawi, maka Pangeran Adipati Anom diangkat menjadi raja Mataram. Namun dalam catatan Valentijn (dalam De Graaf, 1987) disebutkan bahwa untuk mempercepat matinya Sunan Amangkurat I dalam pengungsian itu, putera mahkota yakni Pangeran Adipati Anom telah memberikan sebutir pil.
Terlepas dari keberhasilan Pangeran Adipati Anom dalam melakukan rekayasa untuk merebut kekuasaan dari ayahnya, yang jelas akibat dari rekayasa itu adalah kehancuran daerah di sekitar Demung dan Ketah akibat perang dan kerusuhan. Bahkan tidak terhitung berapa jumlah korban yang harus mati dalam rekayasa itu. Yang jelas, korban itu umumnya adalah rakyat pedesaan dan prajurit-prajurit rendahan.
Berdasar uraian di muka, terdapat suatu petunjuk bahwa masyarakat di kawasan ini adalah komunitas yarg sangat fanatik terhadap agama yang dianutnya, sekaligus memiliki kecenderungan nativis yakni enggan menerima pengarah dari luar yang tidak sesuai dengan budaya mereka yang heroik yang terbentuk oleh latar sejarah mereka yang penuh diwarnai peperangan dan rekayasa politik.

Minggu, 07 April 2013

SITUS PATUKANGAN: MUNGKINKAH BENTENG PAJARAKAN


oleh: Irwan Rakhday

Secara geografis, Situs Patukangan yang berupa reruntuhan batu bata kuno sepanjang 1,5 km dan 1 km letaknya tak jauh dari muara Panarukan.Wilayah tersebut merupakan pusat aktifitas sejak masa klasik hindu-budha. Dalam kitab negara kertagama disebutkan tentang eksistensi wilayah kadipaten Patukangan yang adipatinya adalah Suradhikara. Adipati Suradhikara adalah pemimpin upacara saat penyambutan Raja Hayam Wuruk saat melakukan audensi dengan para raja-raja kecil pada tahun 1359 M.
Yang menjadi tanda tanya saat ini adalah tinggalan arkeologisnya yang menunjukkan sebuah struktur batu bata memanjang. Tentu bukan sebuah bangunan biasa. Jika itu sebuah benteng, apakah nama bentengnya.?
Dari referensi sejarah yang ada, Patih Nambi yang menyerang Majapahit pada 1316 M disebut membangun benteng Pajarakan.Tetapi hingga saat ini, di Kecamatan Pajarakan di kab.Probolinggo tidak ditemukan tinggalan arkeologis berupa struktur batu bata semacam di Panarukan.
Lantas dimanakah letak benteng Pajarakan? Apakah benteng Pajarakan yang dihancurkan pasukan Majapahit itu adalah yang terletak di Panarukan sekarang? Sedangkan nama Patukangan sendiri apakah baru ada sejak pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang naik tahta pada 1350 M dan dicantumkan dalam Kitab Negara kertagama? Sebab sebagaimana lazimnya sebuah orde/pemerintahan yang baru atau yang menggantikan pemerintahan sebelumnya terkadang harus menghilangkan sebuah nama tempat denga maksud menghapus spirit perlawanan di lokasi itu.Namun nama Pajarakan saat ini menjadi nama sebuah kecamatan yang dulu saat Raja hayam Wuruk melakukan perjalanan juga disinggahinya.

Patung dewi tara

Kamis, 28 Maret 2013

Link tentang kisah sejarah situbondo

Berikut adalah beberapa link yang didalamnya tercantum kisah-kisah dan paparan serta foto-foto tentang Besuki, Situbondo, Panarukan, Ketah dan sebagainya.

  • Hasil Searching foto-foto masa silam dalam KITLV Digital Media (netherland)

  • katalog batik tulis (Pictures of the tropics : a catalogue of drawings, water-colours, paintings, and sculptures in the collection of the Royal Institute of Linguistics and Anthropology in Leiden)


  • karya tulis yang mencantumkan Nama Rengganis dan disimpan di Musium


Jumat, 22 Maret 2013

Tara goddess statue Versi english


ARCA FOUND IN SUSPECTED GODDESS TARA SITUBONDO

SITUBONDO, FPCB Misyono (44 years) on Sunday, March 10, 2013, found a statue that supposedly resemble a statue goddess Tara. Arca was found wedged conditions in the forests of teak root Baluran, District Banyuputih.

        
Discovery of archaeological objects shaped statue was started when Misyono who worked as a farmer looking for grass. On the night before finding the statue, he admitted that he dreamed of women dressed in white. In his dream, the woman waved his scarf to Misyono. Even asked to come live bersamanya.Tetapi Misyono Misyono menolaknya.Namun woman forced Misyono, until finally Misyono powerless to resist her desire.

      
The next day, the father of two children was also working normally graze in the forest Baluran, precisely in Block BES. When searching for grass, Misyono find it so strange that sandwiched teak root. Misyono curious immediately took it. Apparently after being approached it in the form of a statue.

     
Misyono then remembered that previously had given the dream shawl. He said to himself that if it is sustenance, it will be taken and can be taken home. About two hours, then the strange object can be removed. Without much deliberation, Misyono immediately brought the statue to his home .. It is said, during the return voyage, the statue of the goddess tara was offered by a driver from Bali at Rp 500,000. However, Misyono not sell it and choose to tell his wife.

     
The statue has a height of 40 cm, width 20 cm by 15 cm thick foundation. While it weighs about 15 kilogram.Sementara terngara name Tara statue, revealed by the Heritage Rescue Forum (FPCB). FPCB himself after persuasive measures, could eventually mediate the process of transferring the alleged objects of antiquities was at the Situbondo regency on Thursday , March 15, 2013. (*)

TEMUAN ARCA DEWI TARA DI SITUBONDO, SEBUAH TANTANGAN


Oleh: Irwan Rakhday.
Peninggalan arkeologi khususnya dari masa klasik Hindu-Budha di Situbondo tampaknya merupakan sesuatu yang langka.Terbukti, tak banyak temuan-temuan arkeologi di kawasan ini.Sekali pun hal itu ada, namun belum dapat secara signifikan menjelaskan perihal eksistensi sebuah kerajaan yang berlatar Hindu-Budha.Memang dari wacana terkini yang berkembang, kawasan Situbondo di masa sejarah khususnya di masa klasik Hindu-Budha ‘hanya’ di sebut di Kitab pararaton dan kitab Negarakerthagama dalam porsi yang kecil.
Dalam kitab Negarakertagama dari masa Kerajaan Majapahit,misalnya, disebut nama wilayah Patukangan,Ketah (Tokengan, Panarukan) dan Ketha (Ketah,di Besuki).Bukan berarti eksistensi wilayah itu tidak penting.Bahkan sangat penting mengingat peristiwa historis di dua lokasi itu cukup menggemparkan.Patukangan, merupakan wilayah kadipaten pelabuhan penting yang dipimpin oleh Adipati Suradikara, mencatat peristiwa audensi Raja Hayam Wuruk dengan sejumlah raja-raja kecil pada tahun 1359 Masehi. Kemudian Ketah yang merupakan daerah pertempuran pemberontakan di masa Majapahit, kita baca sebagai sebuah wilayah yang amat penting untuk direbut.
Sementara itu puluhan kilometer ke arah timur dua lokasi penting itu, belum disebut secara gamblang dalam referensi-referensi sejarah. Hal itu menasbihkan daerah wilayah timur Situbondo masih diliputi misteri.Ada apa dengan Situbondo di wilayah timurnya, tepatnya di wilayah yang kini sebuah kecamatan Banyuputih? Catatan sejarah atau setidaknya pewacanaan sejarah masa klasik Hindu-Budha di kawasan ini sangatlah minim.Bahkan seperti tertelan dalam catatan sejarah karena selalu didentikkan sebagai bagian ‘pinggiran’ dari wilayah kerajaan Blambangan.
Hal itu bisa jadi hanya sebuah asumsi dan bukan rumusan pasti. Bahwa area yang dimaksud hanyalah area sebuah dusun biasa.Tetapi dari beberapa temuan terkini, membuat kita sedikit mengernyitkan dahi untuk kembali membaca sekaligus meladeni tantangan pikiran kita menguak masa lalu secara spesifik. Temuan yang mengindikasikan sebuah situs purbakala yang merupakan pusat aktifitas baik itu permukiman maupun tempat pemujaan.
Lihatlah, Prasasti Widoro Pasar yang terletak di kecamatan Banyuputih yang berangka tahun 1453 Masehi dan sekitar 500 meter dari lokasi prasasti itu juga ada sebuah prasasti yang bentuknya serupa, walau tulisannya sudah hilang sama sekali. Kemudian Situs Batu Lesung yang juga tak jauh dari lokasi tersebut menunjukkan adanya sebuah wilayah permukiman penduduk.Belum lagi sebuah gundukan tanah atau bukit kecil yang juga ditemukan struktur batu bata di dalamnya di antara kedua lokasi tersebut di atas.
Nah, terkait dengan hal itu, ada sebuah temuan penting pada 9 Maret 2013 di sebuah lokasi hutan di
Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih.Temuan benda purbakala itu adalah sesosok arca wanita .Arca tersebut identik dengan arca Dewi Tara.Bahannya terbuat dari batu. Patung setinggi 40 cm,lebar 20 cm dan tebal 15 cm itu memiliki ornamen khas yang cukup bagus kualitasnya.Motif-motifnya sangat detail. Bahkan ekspresi wajahnya cukup meberi kesan agung dan berwibawa sebagaimana sosok orang besar.
Arca Dewi Tara tersebut bisa jadi merupakan arca temuan di Kabupaten Situbondo yang kualitasnya bagus. Jauh lebih bagus dibandingkan dengan arca temuan di wilayah barat Kabupaten Situbondo seperti di Kecamatan Jatibanteng. Arca-arca temuan di wilayah tersebut di atas rata-rata kasar dan terkesan belum selesai digarap.Atau bisa jadi sebagian lapuk dimakan usia sehingga ornamennya tidak jelas.
Temuan arca berkualitas bagus itu amatlah penting mengingat berbagai aspek yang dapat dianalisa antara lain fungsi arca tersebut. Selain itu, penegasan dalam wacana arkeologi terkait nama arca dapat dijadikan indikasi dari masa apa arca tersebut dibuat.Tentu hal itu memerlukan penelitian arkeologi yang dapat dibuktikan secara ilmiah.Bisa jadi lokasi temuan arca di kawasan hutan Baluran itu merupakan situs sejarah.Hal itu diperkuat dengan pernyataan beberapa warga yang pernah melihat tumpukan batu bata, sumur tua dan beberapa artefak.
Barangkali bagi sebagian orang, temuan ini adalah sebuah narasi kecil. Sebuah narasi yang biasa seperti angin lalu. Padahal bagi seorang sejarawan maupun pencinta sejarah, temuan tersebut adalah sebuah narasi besar.Sebuah pintu pembuka untuk menguak misteri peradaban masa klasik Hindu –Budha di bumi Situbondo yang masih samar-samar.Semoga

Senin, 18 Maret 2013

BERITA DUKA:
Saudara-saudara para pecinta dan pelestari peninggalan Sejarah Indonesia, ada kabart erbaru yang sangat menyedihkan. Kabupaten Bondowoso adalah sebuah Kabupaten yang telah mengesahkan PERDA Cagar Budaya tahun 2011 dan dikenal sebagai Kabupaten dengan peninggalan Pra Sejarah, namun belakangan ini ada kabar yang membuat kita sedih. Sebuah situs pra sejarah dari jaman Megalitikum yang terletak pada sebuah bukit yang masuk wilayah Nangkaan sudah dibeli investor akan dialih-fungsikan untuk menjadi arena wisata termasuk "Water Boom". Belakangan Para pekerja sudah mulai membongkar area ini dan mulai memindahkan tulang rangka yang ada ke pekuburan terdekat. Mari teman-teman kita mesti bersuara keras. Monggo teman2 yang ada di Bondowoso dan Universitas Negeri Jember untuk mengadvokasi kasus ini. (Mohon nomer kontaknya). Kita-kita dari pelestarian Cagar Budaya Lumajang akan senantiasa membantu pengawalan dan bekerja sama....salam Lamajang Wirabhumi, Pejuangan Tiada Henti!!

Tapuk atau topeng: bukti arkeologis pada masa pengaruh Hindu-Buddha, topeng disebutkan dalam prasasti dan diwujudkan dalam relief, kala pada gerbang candi, dan topeng dari emas, kayu, kulit binatang, tanah liat, dan batu. Kemungkinan besar, artefak ini digunakan untuk sarana ritual.

Minggu, 17 Maret 2013

ANALISA S.MARGANA TENTANG ARCA TEMUAN DI SITUBONDO

S Margana  dari Leiden, Belanda menganalisa Arca temuan di Situbondo. Ia mengatakan bahwa dalam Buddhisme Tibet sosok yang terwujud dalam arca itu dianggap sebagai Bodhisattva belas kasih dan tindakan. Dia adalah aspek feminin dari Avalokitesvara, dan dalam beberapa cerita, dia berasal dari air matanya Avalokitesvara: Suatu ketika Avalokiteshvara tiba di puncak Marpori, 'Red Hill', bukit merah di Lhasa. Menatap keluar, ia melihat bahwa danau di Otang, mirip neraka. Di sana berjuta orang yang menjalani penderitaan tubuhnya mendidih, haus, terbakar, kelaparan, namun mereka tidak pernah tewas, teriakan mengerikan dari kesedihan sepanjang waktu. Ketika Avalokiteshvara melihat ini, air mata muncul di matanya. Air mata dari mata kanannya jatuh ke dataran dan menjadi Pendeta Bhrikuti. Bhrikuti kemudian diserap ke dalam mata kanan Avalokiteshvara, dan terlahir kembali di kemudian hari sebagai putri Nepal Tritsun. Sebuah air mata dari mata kirinya jatuh menjadi Pendeta Tara. Tara juga diserap ke dalam mata kiri Avalokiteshvara, dan terlahir kembali di kemudian hari sebagai putri Cina Kongjo (Putri Wencheng).

TEMUAN SITUS PURBAKALA dan ARTEFAK KUNO DI KEC.BANYUPUTIH , SITUBONDO 17 MARET 2013
















Kamis, 14 Maret 2013

Penemuan Patung Dewi Tara




ARCA DIDUGA DEWI TARA DITEMUKAN DI SITUBONDO


SITUBONDO,FPCB  Misyono (44 tahun) pada Minggu, 10 Maret 2013, menemukan sebuah  sebuah patung  yang diduga mirip  Arca Dewi Tara . Arca tersebut ditemukan dengan kondisi terjepit akar kayu jati di hutan Baluran, Kecamatan Banyuputih.

        Penemuan benda purbakala berbentuk patung tersebut berawal saat Misyono yang bekerja sebagai petani itu sedang mencari rumput. Pada  malam sebelum menemukan patung itu, ia mengaku bermimpi didatangi perempuan yang berpakaian putih. Dalam mimpinya itu,  perempuan tersebut mengibas-ngibaskan  selendang kepada Misyono. Bahkan meminta Misyono untuk ikut tinggal bersamanya.Tetapi Misyono menolaknya.Namun perempuan tersebut memaksa Misyono, hingga akhirnya Misyono tak kuasa untuk menolak keinginan perempuan itu.

      Keesokan harinya, bapak dua anak itu pun bekerja seperti biasa mencari rumput di hutan Baluran, tepatnya di Blok BES. Saat mencari rumput, Misyono menemukan benda aneh yang terhimpit di akar kayu jati. Misyono yang penasaran segera mengambil benda itu. Ternyata setelah didekati benda  itu berupa patung.

     Misyono kemudian ingat bahwa sebelumnya sempat bermimpi diberi selendang. Ia berkata pada dirinya bahwa jika itu merupakan rezekinya, benda itu akan bisa diambil dan bisa dibawa pulang. Sekitar dua jam, barulah benda aneh tersebut bisa diangkat. Tanpa banyak pertimbangan, Misyono langsung membawa patung tersebut ke rumahnya..Dikatakan,selama perjalanan pulang, patung Dewi tara tersebut sempat ditawar oleh seorang sopir asal Bali seharga Rp 500.000. Namun, Misyono tidak menjualnya dan memilih memberi tahu pada  istrinya.

     Patung tersebut memiliki tinggi 40 cm, lebar 20 cm dengan ketebalan pondasi 15 cm. Sedangkan beratnya sekitar 15 kilogram.Sementara itu terngara nama patung Dewi Tara , diungkapkan oleh Forum Penyelamat Cagar Budaya (FPCB).FPCB sendiri setelah melakukan langkah persuasif, akhirnya dapat melakukan mediasi dalam proses penyerahan benda yang diduga benda purbakala itu pada pihak Pemkab Situbondo pada Kamis,15 Maret 2013.(*)

SELAMAT DATANG

SEKILAS TENTANG FPCB

FPCB (Forum Penyelamat Cagar Budaya) didirikan pada tanggal 2 Juli 2012 di Asembagus, Situbondo , Jatim.Para pendiri kelompok pencinta Cagar Budaya ini antara lain, H.Ainun Jamil Bakri,Budi .S.Setyawan, Isman Darwin,Irwan Rakhday,Agus Rajana,Agus Ariyanto,APM Supriyono,Dikun, M.Sa"id,Bambang Suryadi,dll.
FPCB didirikan dengan tujuan untuk menyelamatkan dan melestarikan keberadaan benda,struktur dan bangunan cagar budaya yang memiliki arti besar bagi bangsa.

Senin, 28 Januari 2008

Sejarah, Istilah Dan Maksudnya

Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah).

Umumnya sejarah dikenal sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.

Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari Ilmu Budaya (Humaniora). Akan tetapi, di saat sekarang ini, Sejarah lebih sering dikategorikan sebagai Ilmu Sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis.

Ilmu Sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Sejarah dibagi ke dalam beberapa sub dan bagian khusus lainnya seperti kronologi, historiograf, genealogi, paleografi, dan kliometrik. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah disebut sejarawan.

Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau Ilmu Babad.

Klasifikasi

Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis, seperti H. G. Wells, Will dan Ariel Durant, menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan ahli sejarah memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing.

Ada banyak cara untuk memilah informasi sejarah, misalnya:

* Berdasarkan kurun waktu (kronologis)
* Berdasarkan wilayah (geografis)
* Berdasarkan negara (nasional)
* Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis)
* Berdasarkan topik/pokok bahasan (topikal)

Banyak orang yang mengkritik Ilmu Sejarah. Menurut mereka sejarah sering kali terlalu terpaku pada kejadian-kejadian politik, konflik bersenjata, dan orang-orang terkenal. Sejarah, menurut mereka, kurang memperhatikan perubahan penting dalam hal pemikiran manusia, teknologi, serta kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat -- hal-hal yang sangat penting untuk diketahui pula. Akan tetapi, perkembangan Ilmu Sejarah sekarang ini semakin berusaha untuk memperbaikinya.


Catatan Sejarah

Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai "sejarah penceritaan", atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah moderen, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periodeyang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan dan menjaga catatan sejarah, termasuk: alasan administratif (misalnya: keperluan sensus, catatan pajak, dan catatan perdagangan), alasan politis (guna memberi pujian atau kritik pada pemimpin negara, politikus, atau orang-orang penting), alasan keagamaan, kesenian, pencapaian olah raga (misalnya: rekor Olimpiade), catatan keturunan (genealogi), catatan pribadi (misalnya surat-menyurat), dan hiburan.

Sejarah dan Pra-sejarah

Dulu, penelitian tentang sejarah terbatas pada penelitian atas catatan tertulis atau sejarah yang diceritakan. Akan tetapi, seiring dengan peningkatan jumlah akademik profesional serta pembentukan cabang ilmu pengetahuan yang baru sekitar abad ke-19 dan 20, terdapat pula informasi sejarah baru. Arkeologi, antropologi, dan cabang-cabang ilmu sosial lainnya terus memberikan informasi yang baru, serta menawarkan teori-teori baru tentang sejarah manusia. Banyak ahli sejarah yang bertanya: apakah cabang-cabang ilmu pengetahuan ini termasuk dalam ilmu sejarah, karena penelitian yang dilakukan tidak semata-mata atas catatan tertulis? Sebuah istilah baru, yaitu pra-sejarah, dikemukakan. Istilah "pra-sejarah" digunakan untuk mengelompokkan cabang ilmu pengetahuan yang meneliti periode sebelum ditemukannya catatan sejarah tertulis.

Pada abad ke-20, pemisahan antara sejarah dan pra-sejarah mempersulit penelitian. Ahli sejarah waktu itu mencoba meneliti lebih dar sekadar narasi sejarah politik yang biasa mereka gunakan. Mereka mencoba meneliti menggunakan pendekatan baru, seperti pendekatan sejarah ekonomi, sosial, dan budaya. Semuanya membutuhkan bermacam-macam sumber. Di samping itu, ahli pra-sejarah seperti Vere Gordon Childe menggunakan arkeologi untuk menjelaskan banyak kejadian-kejadian penting di tempat-tempat yang biasanya termasuk dalam lingkup sejarah (dan bukan pra-sejarah murni). Pemisahan seperti ini juga dikritik karena mengesampingkan beberapa peradaban, seperti yang ditemukan di Afrika Sub-Sahara dan di Amerika sebelum kedatangan Columbus.

Akhirnya, secara perlahan-lahan selama beberapa dekade belakangan ini, pemisahan antara sejarah dan pra-sejarah sebagian besar telah dihilangkan.

Sekarang, tidak ada yang tahu pasti kapan sejarah dimulai. Secara umum sejarah diketahui sebagai ilmu yang mempelajari apa saja yang diketahui tentang masa lalu umat manusia (walau sudah hampir tidak ada pemisahan antara sejarah dan pra-sejarah, ada bidang ilmu pengetahuan baru yang dikenal dengan Sejarah Besar). Kini sumber-sumber apa saja yang dapat digunakan untuk mengetahui tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau (misalnya: sejarah penceritaan, linguistik, genetika, dan lain-lain), diterima sebagai sumber yang sah oleh kebanyakan ahli sejarah.


Etimologi

Kata "sejarah" secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri sejarah disebut تاريخ (tarikh). Kata "tarikh" dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah "waktu".


Historiografi

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Historiografi

Historiografi adalah adalah ilmu yang meneliti dan mengurai informasi sejarah berdasarkan sistem kepercayaan dan filsafat. Walau tentunya terdapat beberapa bias (pendapat subjektif) yang hakiki dalam semua penelitian yang bersifat historis (salah satu yang paling besar di antaranya adalah subjektivitas nasional), sejarah dapat dipelajari dari sudut pandang ideologis, misalnya: historiografi Marxisme.

Ada pula satu bentuk pengandaian sejarah (spekulasi mengenai sejarah) yang dikenal dengan sebutan "sejarah virtual" atau "sejarah kontra-faktual" (yaitu: cerita sejarah yang berlawanan -- atau kontra -- dengan fakta yang ada). Ada beberapa ahli sejarah yang menggunakan cara ini untuk mempelajari dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang ada apabila suatu kejadian tidak berlangsung atau malah sebaliknya berlangsung. Hal ini mirip dengan jenis cerita fiksi sejarah alternatif.

Metode Kajian Sejarah

Ahli-ahli sejarah terkemuka yang membantu mengembangkan metode kajian sejarah antara lain: Leopold von Ranke, Lewis Bernstein Namier, Geoffrey Rudolf Elton, G. M. Trevelyan, dan A. J. P. Taylor. Pada tahun 1960an, para ahli sejarah mulai meninggalkan narasi sejarah yang bersifat epik nasionalistik, dan memilih menggunakan narasi kronologis yang lebih realistik.

Ahli sejarah dari Perancis memperkenalkan metode sejarah kuantitatif. Metode ini menggunakan sejumlah besar data dan informasi untuk menelusuri kehidupan orang-orang dalam sejarah.

Ahli sejarah dari Amerika, terutama mereka yang terilhami zaman gerakan hak asasi dan sipil, berusaha untuk lebih mengikutsertakan kelompok-kelompok etnis, suku, ras, serta kelompok sosial dan ekonomi dalam kajian sejarahnya.

Dalam beberapa tahun kebelakangan ini, ilmuwan posmodernisme dengan keras mempertanyakan keabsahan dan perlu tidaknya dilakukan kajian sejarah. Menurut mereka, sejarah semata-mata hanyalah interpretasi pribadi dan subjektif atas sumber-sumber sejarah yang ada. Dalam bukunya yang berjudul In Defense of History (terj: Pembelaan akan Sejarah), Richard J. Evans, seorang profesor bidang sejarah moderen dari Univeritas Cambridge di Inggris, membela pentingnya pengkajian sejarah untuk masyarakat.

Belajar dari Sejarah

Sejarah adalah topik ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai: keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam, sepanjang zaman.

Salah satu kutipan yang paling terkenal mengenai sejarah dan pentingnya kita belajar mengenai sejarah ditulis oleh seorang filsuf dari Spanyol, George Santayana. Katanya: "Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya."

Filsuf dari Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan dalam pemikirannya tentang sejarah: "Inilah yang diajarkan oleh sejarah dan pengalaman: bahwa manusia dan pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah atau prinsip-prinsip yang didapat darinya." Kalimat ini diulang kembali oleh negarawan dari Inggris Raya, Winston Churchill, katanya: "Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya."

Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar yang berpengaruh, pernah pula berkata "Sejarah akan baik padaku, karena aku akan menulisnya." Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: "Sejarah ditulis oleh sang pemenang." Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak sejarah -- dan pemelesetan fakta sejarah -- sesuai dengan apa yang mereka rasa benar.

Pandangan yang lain lagi menyatakan bahwa kekuatan sejarah sangatlah besar sehingga tidak mungkin dapat diubah oleh usaha manusia. Atau, walaupun mungkin ada yang dapat mengubah jalannya sejarah, orang-orang yang berkuasa biasanya terlalu dipusingkan oleh masalahnya sendiri sehingga gagal melihat gambaran secara keseluruhan.

Masih ada pandangan lain lagi yang menyatakan bahwa sejarah tidak pernah berulang, karena setiap kejadian sejarah adalah unik. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang menyebabkan berlangsungnya suatu kejadian sejarah; tidak mungkin seluruh faktor ini muncul dan terulang lagi. Maka, pengetahuan yang telah dimiliki mengenai suatu kejadian di masa lampau tidak dapat secara sempurna diterapkan untuk kejadian di masa sekarang. Tetapi banyak yang menganggap bahwa pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena pelajaran sejarah tetap dapat dan harus diambil dari setiap kejadian sejarah. Apabila sebuah kesimpulan umum dapat dengan seksama diambil dari kejadian ini, maka kesimpulan ini dapat menjadi pelajaran yang penting. Misalnya: kinerja respon darurat bencana alam dapat terus dan harus ditingkatkan; walaupun setiap kejadian bencana alam memang, dengan sendirinya, unik.